Fertigasi Kendi Sebagai Alternative Budidaya Cabai Lahan Kering

 

Yogyakarta-21 Agustus 2017- Cabai merupakan kebutuhan pangan permintaan yang tergolong tinggi di pasaran, utamanya adalah cabai rawit. Keberadaanya tidak hanya dibutuhkan oleh skala rumah tangga namun juga sektor perdagangan dan industri. Permintaan yang tinggi sedangkan suplai pasar yang tidak stabil membuat harganya berfluktuasi. Tercatat pada awal tahun 2017 harga cabai rawit melambung diatas Rp.100.000,- per kg.

Kabupaten Gunungkidul terkenal dengan lahan kering dengan sifat pertanian berupa tadah hujan. Pada musim kemarau lahan-lahan di lokasi tersebut acap kali tidak termanfaatkan karena sulitnya sumber air. Berdasar pada beberapa alasan tersebut, dengan dukungan dana dari Kemenristek DIKTI melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Ipteks Bagi Masyarakat/IbM), tim dosen Fakultas Kesehatan Masyarakt UAD yaitu Tri Wahyuni Sukesi, MPH; Sulistyawati, MPH dan Dr. Surahma Asti Mulasari, M.Kes, mengusung program Pemberdayaan Masyarakat dalam Budidaya Cabai Lahan Kering dengan Teknik Fertigasi Kendi.

“Kegiatan IbM tersebut bermitra dengan Dusun Soka dan Sepat, Ngoro-oro, Patuk, Gunungkidul” ungkap Tri Wahyuni. Rangkaian kegiatan ini diawali sosialisasi dan pelatihan pada tanggal 18 Juli 2017 di Balai Desa Ngoro-oro. “Kami menyambut baik program yang diusung oleh tim dan berharap dapat berjalan secara berkesinambungan” ungkap Dalyuni selaku perwakilan Pemerintah Desa saat membuka acara sosialisasi. Pada kesempatan tersebut, diserahkan hibah alat-alat kegiatan dari tim pengusung disaksikan oleh perwakilan LPM UAD ke mitra berupa seperangkat bak komposter lindi, kendi dan bor piorori.

“Kegiatan berlangsung hingga bulan Agustus di lokasi tersebut dengan metode training dan praktek” ungkap Tri Wahyuni. Ada beberapa pelatihan yang diberikan antara lain, teknik bercocok tanam dengan fertigasi kendi, pembuatan pupuk kompos baik padat maupun cair (lindi) dan pembuatan lubang resapan biopori. “Lindi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk pupuk dalam fertigasi kendi” tambahnya. Selain itu juga diadakan monitoring. Hal ini dilakukan dari rumah ke rumah peserta pelatihan untuk melihat kemajuan aplikasi program.  “Harapan kami program ini dapat menjadi alternatif  bertani bagi masyarakat” tambahnya.